Tengkorak Adalah Film Fiksi Ilmiah Indonesia yang Perlu Anda Tonton

[Hamzhafiri.com] Apa yang biasanya terjadi ketika orang Indonesia menyaksikan fenomena aneh yang di luar nalar sehari-hari? Dulu kita pernah menemukan crop circle, lantas seluruh negeri gonjang-ganjing dengan isu dan sensasi layaknya sinetron. Atau jangankan fenomena nyata, pernah ada film barat berjudul “2012” yang masuk ke Indonesia dan menceritakan ramalan kiamat oleh bangsa Maya. Lantas masyarakat heboh! Banyak orang yang dengan keras menolak ramalan itu dan menolak filmnya, namun ada pula yang percaya bahwa kiamat tahun 2012 akan sungguh terjadi. Begitu rentan masyarakat kita pada isu sensasional dan kabar yang belum jelas ujungnya. Lantas bagaimana jika kita melihat fenomena yang jauh lebih tidak masuk akal lagi? Bagaimana jika bangsa kita, menemukan fosil tengkorak purba sepanjang 2 kilometer di tanah bumi pertiwi?

Yusron Fuadi, seorang sutradara muda pendiri Akasacara Film, tergelitik untuk membuat sebuah film fiksi yang memotret kemungkinan tersebut. Sineas yang juga pengajar di Program Studi Komputer dan Sistem Informasi Sekolah Vokasi UGM ini berandai-andai, bagaimana ya kalau misalnya di Indonesia ditemukan fosil manusia purba sepanjang 2 kilometer?

Bayangkan kehebohan masyarakat Indonesia dan dunia! Bayangkan bagaimana reaksi pemerintah Indonesia! Bayangkan kontroversi dan perdebatan yang akan terjadi di kalangan ilmuwan, politisi, dan tokoh agama! Makhluk apakah ini? Menyerupai manusia tapi memiliki ukuran seperti gunung. Di zaman apa ia hidup? Apakah ada fosil serupa di tempat lain? Apakah fosil ini lantas mengubah peta sejarah antropologi? Bagaimana agama akan menjawab kehadiran manusia raksasa ini? Pertanyaan demi pertanyaan akan terus terlontar tanpa pernah hadir jawabannya.

Kira-kira begitulah ide besar film berjudul “Tengkorak” yang disutradarai Yusron Fuadi. Genre dari film ini adalah science fiction, yang termasuk jarang digarap oleh sineas asli Indonesia.  Tengkorak sudah selesai pembuatannya sejak awal tahun ini dan sedang dalam proses untuk bisa ditayangkan di layar lebar. Pada tanggal 7-8 Desember lalu, film ini telah tayang di ajang festival film JAFF dan untuk pertama kalinya disaksikan publik luas. Rencananya, Yusron Fuadi dan tim akan mengikutsertakan film Tengkorak ke berbagai festival dan perlombaan, guna meraih kans untuk mengajukan film ini tayang di layar lebar.

Poster resmi film Tengkorak

Sebenarnya apa sih yang membuat Film Tengkorak menarik dan pantas untuk jadi film favorit anda? Saya sempat bertemu langsung dengan Yusron Fuadi di sela-sela kesibukannya syuting dan mengajar. Selama proses pembuatannya pun saya seringkali bertemu beliau dan berbincang-bincang tentang beragam hal mengenai Tengkorak. Pria yang juga menyutradarai film pendek “Pendekar Kesepian” dan “Young Man and The Sea” ini pun memaparkan tentang film kolosal pertama yang ia buat. Inilah beberapa alasan kamu harus segera nonton film ini jika sudah tayang nanti.



 

Film Science Fiction jarang ada di Indonesia, padahal penggemarnya banyak. Tengkorak akan menjawab rasa haus penonton Indonesia akan film Sci-Fi dalam negeri.

Cuplikan film Tengkorak

Pernah nonton film science fiction atau Sci-Fi? Itu lho, film fiksi yang tema besarnya adalah sesuatu yang ilmiah, dan dihadirkan dengan fantasi kreatif. Sebut saja film legendaris Star Wars, Star Trek, ET, District 9, Children of Men, dan sebagainya. Atau kalau di zaman sekarang, tengoklah Interstellar, The Martian, Gravity, dan film-film epik lainnya yang berbau teknologi dan luar angkasa. Atau ada pula film Sci-Fi yang lebih bernuansa action dan fantasi, seperti Godzilla, Transformer, Pacific Rim, World War Z, Battle Los Angeles, dan kawan-kawan monster, alien, dan zombie lainnya.

Apa kamu suka film Sci-Fi? Apa film Sci-Fi yang paling kamu suka? Pasti banyak.

Oke, pertanyaan selanjutnya, film Sci-Fi Indonesia mana yang kamu suka? Hmm… Film Sci-Fi Indonesia itu apa aja ya?

Kamu bisa berpikir berjam-jam, dan tidak bisa ingat film Indonesia mana yang pantas dikategorikan Sci-Fi. Nah lho! Indonesia tidak pernah bikin film Sci-Fi jangan-jangan! Sebenarnya sih ada, tapi mungkin memang tidak banyak dan tidak sedemikian kolosal sehingga sangat mudah terlupakan. Ditambah lagi film yang ada di Indonesia didominasi dengan film drama dan horor. Untuk film action sendiri baru mulai menyeruak belakangan gara-gara The Raid. Jadi gimana nih nasib film Sci-Fi Indonesia? Padahal kita tahu, banyak penggemar Sci-Fi alias fiksi ilmiah di kalangan penikmat film Indonesia.

Di sinilah Tengkorak hadir menjadi pemuas dahaga buat pecinta film Sci-Fi di tanah air. Malu dong kalau kita terus-terusan menjadi penikmat film Sci-Fi orang bule sementara produksi film kita masih seputar drama cinta-cintaan? Nah, seperti yang sudah diungkap di awal, Sci-Fi dalam Film Tengkorak terwujud dalam bentuk penemuan tengkorak sepanjang 2 km di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tengkorak raksasa ini pun dikarantina oleh pemerintah sambil diteliti lebih lanjut. Siapakah tengkorak ini? Dari zaman apa ia hidup? Apakah dia spesies yang sama seperti manusia moderen? Apa jangan-jangan ada makhluk raksasa seperti dia yang masih hidup dan mengintai di suatu tempat? Hii!

Film Tengkorak akan menggugah spirit kemanusiaan kita, dan menjadi potret unik atas peradaban masyarakat Indonesia dan dunia di era moderen.

Sudah ribuan tahun umat manusia hidup di muka bumi. Selama ribuan tahun itu pula kita menguasai bumi dan memanipulasi alam demi kenikmatan, kepuasan, dan kenyamanan hidup kita. Kita benar-benar merasa menjadi makhluk paling hebat dan sempurna di bumi, sementara makhluk-makhluk lain di dalamnya cukuplah jadi “bawahan” kita. Namun tiba-tiba, ditemukanlah fosil tengkorak sepanjang 2 km di Indonesia, tepatnya di daerah Yogyakarta, yang tersibak karena gempa di daerah itu pada tahun 2006. Lantas kesombongan umat manusia pun tergerus. Pertanyaan terbesar dan menakutkan mulai muncul di benak orang-orang:

Apakah kita bukan lagi makhluk paling berkuasa di muka bumi ini?

Lagipula, jika memang manusia bukan makhluk paling sempurna, akankah kita mau mengetahuinya?

Kira-kira itulah prolog awal dari Film Tengkorak. Bisa kamu bayangkan, jika yang ditemukan hanya fosil purba setinggi 2 meter, itu sudah biasa. Tapi ini 2 kilometer! Ditemukannya fosil tengkorak raksasa ini tidak hanya menjadi penemuan ilmiah, tapi juga kontroversi kompleks yang membingungkan ilmuwan dan agamawan. Ilmu pengetahuan tidak bisa memberi penjelasan logis atas spesies tengkorak ini. Tokoh agama tidak bisa menerangkan makhluk ini berdasarkan Kitab Suci yang ada. Semuanya bimbang dan bingung, dan seperti yang diungkap di awal, ketika masyarakat menyaksikan fenomena yang ia tidak pahami, maka kekacauan akan terjadi. Seperti tagline dari film ini: rediscovering humanity, apakah ini saat yang tepat untuk merombak kembali pemahaman kita akan kemanusiaan?

Cerita tidak berakhir sampai di situ. Seorang gadis bernama Ani (Eka Nusa Pertiwi) yang juga merupakan tokoh utama, bertekad untuk memecahkan misteri tengkorak ini. Namun, ia harus berhadapan dengan berbagai macam rintangan. Dalam perjalanannya, ia akan bertemu dengan Yos (Yusron Fuadi), seorang pemuda tangguh dengan latar belakang mencengangkan, dan Letnan Jaka (Guh S. Mana), seorang perwira militer yang telah menjadi ayah angkat bagi Yos. Seperti apa perjalanan mereka untuk mengungkap rahasia Tengkorak?

Film Tengkorak secara keseluruhan ingin memotret secara unik gambaran masyarakat kita, dari segi rakyat maupun negara, ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak mereka pahami. Misalnya, bagaimana kepanikan dan histeria yang terjadi di kalangan masyarakat atas penemuan tengkorak ini, yang diperparah dengan pemberitaan media yang simpang-siur dan cenderung mencari sensasi.

Apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap fosil Tengkorak?

Pemerintah juga digambarkan gagap menghadapi fenomena ini, lantas melakukan kebijakan-kebijakan radikal tanpa pikir panjang, yang menjadi ciri khas negara dunia ketiga. Ditambah lagi tekanan dunia internasional yang juga penasaran atas penemuan ini dan khawatir akan ada bahaya nyata dari Indonesia. Di tengah kelumit kontroversi dan tali-temali kekacauan itu, Sang Tengkorak Raksasa pun berbaring dengan tenang di bukitnya, menunggu giliran untuk mengungkapkan identitas aslinya yang mencengangkan.

Visual Effect dan fotografi film ini akan membuatmu terpukau

Cuplikan film, mantep kan tengkoraknya?

Jika kamu sudah terbiasa melihat visual effect moderen nan CGI ala film Transformer dan Marvel, maka kamu tidak perlu ragu untuk menyaksikan Tengkorak. Film ini juga akan menggunakan visual effect 3D yang canggih dan memukau. Meski mungkin belum sekeren robot-robot Transformer, kamu boleh bangga bahwa visual effect yang ada dalam film ini murni buatan tangan anak bangsa. Anak-anak muda berbakat yang sebagian besar adalah mahasiswa Yusron Fuadi sendiri di Sekolah Vokasi UGM adalah mereka yang bertanggungjawab atas efek visual di film ini.

Cuplikan film Tengkorak

Jangan lupakan juga bahwa film ini akan menyajikan sorot gambar memukau daerah-daerah eksotis di Gunung Kidul, Bantul, Sleman, Gunung Bromo, Gunung Merapi dan lain sebagainya. Dengan teknik fotografi mutakhir menggunakan drone terbang, kamu bisa menyaksikan tempat-tempat eksotis di Indonesia seolah kamu melayang di langit dan menyaksikan hamparan hijau bumi pertiwi dari mata seekor elang. Kamu akan merasa seperti menyaksikan The Lord of The Ring ala Indonesia.

Cuplikan film Tengkorak

“Sci-Fi memang bukan sekedar fantasi, tapi saya bukan sutradara yang lupa cara untuk tertawa.” Yusron Fuadi.

Kita mungkin penasaran, Tengkorak ini Sci-Fi yang bakalan kayak gimana sih? Apakah akan teramat serius macam karya Nolan dalam Inception dan Interstellar? Atau macam karya George Lucas dan JJ Abrams yang memicu adrenalin dalam film Star Wars dan Star Trek? Atau mungkin cuma ledak-ledakan ala Michael Bay di Transformer? Nah, Yusron Fuadi punya jawaban tersendiri akan hal itu.

Baginya, film Sci-Fi memang bukan semata tentang fantasi dan special effect. Star Wars bukan sekedar cerita tentang perang di luar angkasa, tapi juga tentang jalan hidup mulia samurai, yang diwujudkan dalam Ksatria Jedi. Children of Men bukan sekedar film menegangkan yang berlatar dunia yang hampir kiamat, tapi bagaimana kondisi masyarakat yang mengira akan menjadi generasi manusia terakhir di dunia, dan perjuangan manusia untuk mempertahankan eksistensinya.

Jadi film Sci-Fi semestinya tidak hanya sekedar fantasi anak cowok yang tergila-gila dengan adegan futuristis. Sci-Fi bisa menjadi film yang sarat kemanusiaan dan kritik atas modernitas. Jadi jangan heran, Film Tengkorak bukan sekedar film seru-seruan yang punya efek visual memukau, namun di dalamnya akan terkandung pesan moral yang berkesan dan menggelitik nalar penonton. Tapi tenang saja, di sisi lain, Yusron sendiri bukan tipikal orang yang ingin membuat film yang teramat serius. “Saya juga seneng nonton Transformer dan Star Wars, saya bukan sutradara yang lupa cara untuk tertawa,” imbuhnya

Yusron Fuadi, memimpin syuting.

Dengan begitu, Tengkorak tidak akan menjadi film yang teramat filosofis, berat, dan ilmiah semata. Kita bisa mengharapkan akan ada adegan anekdot maupun hiburan ringan yang bisa membuat kita tergelitik. Sebut saja penggunaan bahasa jawa ngoko yang dipakai para tokohnya ketika bersenda-gurau, dijamin membuat penonton tergelak. Yusron Fuadi sendiri tidak sekedar menyutradarai, ia juga turut memerankan salah satu tokoh utama dalam film ini, seorang pemuda bernama Yos.

Sudah siap nonton Tengkorak?

Sang tokoh utama, diperankan oleh aktris muda berbakat, Eka Nusa Pertiwi.

Nah, pastinya kamu tidak sabar lagi untuk menanti rilisnya film ini bukan? Nah, seperti yang sudah saya tuliskan barusan, Tengkorak sudah selesai pengerjaannya sekitar awal tahun 2017 ini. Bahkan sudah diputar di festival film JAFF tanggal 7-8 Desember 2017 silam. Saat itulah pertama kalinya saya menonton karya kebanggaan Yusron Fuadi ini. Pendapat saya? Wah, anda perlu untuk nonton film ini. Bukan harus, tapi perlu, hehehe.

Karena film ini seratus persen independent (indie), maka dukungan kita sebagai penonton akan sangat penting! Yuk kita dukung film ini bersama! Menurut Yusron, mulai tahun 2018 Tengkorak akan mulai diikusertakan pada berbagai festival dan ajang perfilman. Harapannya, jika respon penonton baik, Tengkorak bisa diajukan untuk tayang di bioskop. Kapan lagi Indonesia bisa bikin film Sci-Fi monumental yang anti-mainstream? Kamu bisa ikuti akun youtube sang sutradara, Yusron Fuadi, di link berikut ini.

Ikuti juga webseries yang dibuat beliau selama proses pengerjaan Tengkorak. Siapa tahu, kamu bisa curi-curi pandang tentang beragam cuplikan adegan di Film Tengkorak.

Trailer resmi Tengkorak

Vlog sang sutradara yang menjadi episode pertama dari webseries “Tengkorak”. Webseries ini terdiri dari lima episode yang menceritakan sedikit kisah di balik layar pengerjaan Tengkorak. 

 

Versi pertama tulisan tentang film tengkorak ini awalnya terbit di isigood.com dan ditulis oleh Hamzah Zhafiri Dicky. Ini adalah tulisan revisi versi kedua yang telah disunting sesuai dengan sudut pandang baru penulis pada bulan Desember 2017. Segala bentuk penyalinan atas tulisan ini tidak diperkenankan tanpa seizin penulis. Namun, gambar dalam cuplikan film Tengkorak dipakai atas seizin pihak produksi Film Tengkorak dan dipakai secara sewajarnya serta tetap menjadi hak cipta Film Tengkorak..

(Visited 46 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*