Menyimak Dongeng di Kedai “Klinik Kopi” Mas Pepeng

(gambar: pegipegi.com)

Kopi. Minuman yang satu ini hampir tidak pernah terpisahkan dari kehidupan manusia. Ada yang sangat menyukainya, sampai-sampai rasanya tidak lengkap kalau pagi-pagi belum ngopi. Ada yang biasa saja, kadang minum kadang tidak. Ada juga yang sangat tidak suka, karena mungkin memang tidak suka rasa khas kopi yang pahit itu.

Seiring waktu, variasi kopi lahir begitu banyak dan beragam. Biji kopi Arabica dan Robusta menjadi dua madzhab kopi utama. Lalu timbul beragam minuman olahan kopi menjadi Cappucino dan Latte. Dari jenis penyajiannya, ada kopi Espresso dan Americano, renyah sekali nama-nama itu.

Bahkan anda mungkin tahu, kopi Luwak yang legendaris itu sebenarnya berasal dari biji kopi yang telah dimakan Luwak. Selama berada di perut binatang tersebut, biji kopi mengalami fermentasi dan tidak terkonsumsi oleh luwak, sehingga ketika dikeluarkan, bentuknya tetap lumayan utuh. Kemudian ketika biji kopi tersebut diolah menjadi kopi, akan menjadi kopi dengan cita rasa yang khas, berkat fermentasi perut luwak.

Kembali ke kopi, beda jenis biji kopi, beda pula rasanya. Beda lama memanggang, beda juga tingkat asam dan pahitnya. Bila biji kopi dipanggang cukup singkat, maka rasanya makin asam. Bila dipanggang cukup lama, akan makin pahit. Baru tahu kan?

Kopi kini juga tersedia dalam bentuk sachet yang diproduksi pabrik, dan tentunya sudah diberi berbagai macam “rasa-rasa,” seperti gula, susu, pemanis buatan, dan sebagainya. Bagi orang awam yang tidak terlalu suka pahitnya kopi, tentu saja kopi sachet jadi pilihan. Kombinasi rasa normal kopi yang pahit dipadu dengan manisnya gula atau susu, bahkan cokelat, membuatnya enak diseruput panas sambil menikmati hujan yang dingin.

Namun, bagi penikmat kopi “sejati,” kopi sachet tentu adalah pantangan terbesar, karena rasa-rasa jejadian tersebut dianggap merusak rasa asli kopi sejati. Tidak percaya? Coba saja kunjungi “Klinik Kopi” yang beroperasi di gedung pertemuan Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Sanatha Dharma, Yogyakarta, tepatnya di lantai dua. Di situ, temuilah Firmansyah, atau akrab dipanggil “Pepeng,” seorang pria yang berprofesi sebagai barista (pembuat kopi) profesional. Firmansyah atau mas Pepeng membuka Klinik Kopi usahanya setiap  sore sampai jam sembilan malam.

brotkkvccaa38o4

Mas Pepeng dengan meja kliniknya. klinikkopi.wordpress.com

Klinik Kopi adalah sebuah kafe komunitas tempat kopi dinikmati secara serius. Namun, ini bukan sembarang kafe, justru lebih mirip seperti layanan “konsultasi perihal kopi.” Kok bisa? Ya, di sini, kamu cukup membayar sepuluh ribu rupiah dan harus mengantri dengan pelanggan lain, yang biasanya datang berombongan, untuk bisa dilayani mas Pepeng. Tidak ada meja dan kursi untuk menikmati kopi sendirian, kita harus meminum kopi di hadapan meja sang barista.

Saat tiba giliranmu, selayaknya sesi konsultasi, kamu akan duduk berhadapan dengannya, sementara di antara kalian ada meja dengan beragam perangkat pembuat kopi yang unik, serta pajangan beberapa contoh biji-biji kopi.

Mas Pepeng pun akan memandu kita menikmati secangkir kopi sejati. Kita bisa bertanya banyak tentang kopi dengannya. Ia akan memperagakan kepiawaiannya meracik secangkir kopi menggunakan beragam alat ekstraksi biji kopi khusus, namun tetap dioperasikan dengan tangan.

Muka mas Pepeng nampak begitu khusyuk ketika ia memasukkan segelas besar biji kopi padat ke dalam alatnya. Kemudian, melalui mekanisme tertentu, ia tekan alatnya, dan mengucurlah cairan kopi pekat yang hanya sanggup mengisi cangkir berukuran normal. Bisa dibayangkan, biji kopi yang banyak tadi telah terekstraksi menjadi hanya secangkir saja, bayangkan betapa pekatnya kopi tersebut. Tentu saja mas Pepeng juga bisa menyeduh kopi kita dengan menambahkan air yang lebih banyak, karena tidak semua orang suka kopi pekat.

Mas Pepeng, yang juga menyebut dirinya Coffee Storyteller akan mendongengkan banyak sekali cerita-cerita menarik tentang kopi. Seperti tadi, ia akan menerangkan bahwa asam dan pahitnya kopi ditentukkan dari lamanya biji kopi dipanggang atau disangrai. Maka itu, saat sesi klinikmu dimulai, pertanyaan pertama mas Pepeng adalah, “suka kopi yang pahit atau asam?”

Menciptakan secangkir kopi

Menciptakan secangkir kopi

Kalau bingung, jawab saja bahwa kamu suka yang tidak terlalu pahit, tapi juga jangan asam-asam banget, takut sakit perut. Mas Pepeng akan menganalisis kopi apa yang cocok untuk kita. ia punya selembar menu bergambar grafik spesifik yang menerangkan level terpanggangnya biji kopi dari mulai yang terasam sampai yang terpahit. Pilih saja: suka yang asam total, sangat asam, lumayan asam, agak asam, setengah-setengah, agak pahit, lumayan pahit, sangat pahit, dan pahit gila! Sepahit kehidupan cintamu barangkali.

Kita akan tergelitik ketika melihat mas Pepeng yang setiap kali memerah ekstrak biji kopi menjadi cairan di dalam gelas, sebelum disajikan, ia akan “membanting” pelan gelas itu. Kira-kira setengah senti gelas kopi tersebut ditabrakkan ke meja. Apa gunanya? Apakah itu teknik rahasia untuk menambah kenikmatan kopi?

“Oh tidak, ini hanya untuk menghilangkan buih-buihnya saja,” kata Mas Pepeng ringan

Dengan geli, Mas Pepeng juga mengkritisi cara kita meminum kopi. Jelas saja karena kita seringkali hanya main teguk saja, seperti minum air putih.

Menyeruput kopi ternyata memiliki teknik sendiri untuk memaksimalkan kenikmatannya. Dengan bibir yang terkatup agak rapat ketika bersentuhan dengan pinggir gelas, kita harus menyeruput dengan kuat dan singkat, agar hanya ada sedikit cairan kopi yang berhasil masuk dari bibir kita yang terkatup lumayan rapat. Praktis, cairan kopi yang masuk ke mulut kita tersebut datang dengan tersemprot, menambah kenikmatannya. Kemudian, kopi yang sudah masuk itu harus disebar ke seisi mulut seperti berkumur, agar kenikmatannya terasa maksimal. Cukup unik bukan?

Cerita tentang kopi memang tidak ada habisnya. Indonesia adalah penghasil biji kopi raksasa di dunia. Hal tersebut nampak dari beragamnya jenis kopi yang disajikan mas Pepeng, seperti kopi Bajawa dari Flores, Lencoh dari Merapi, Kintanami dari Bali, Wamena dari Papua, Java Tobacco dari Temanggung, Sunda Jahe dari Jawa Barat, dan lain sebagainya.

Beragamnya jenis kopi di Indonesia membuat aneka rasanya juga variatif. Menurut Pepeng, kekayaan ini bisa ada karena kopi-kopi tersebut tumbuh di jenis tanah pada daerah yang berbeda-beda. “Sangat disayangkan, masyarakat Indonesia malah senangnya minum kopi sachet-an, padahal Indonesia adalah negara ketiga terbesar penghasil biji kopi terbaik” ungkapnya.

Saat bertemu klien baru yang bukan langganan tetapnya, mas Pepeng suka membuatkan dua jenis kopi: Kopi racikannya sendiri, yang ia dapat dari berbagai macam tempat di Indonesia, bahkan ada yang ia petik langsung dari kaki Gunung Merapi, disandingkan dengan kopi sachet yang dibeli di warung terdekat.

Kita pun diminta untuk membandingkan kedua cangkir kopi yang berbeda isi tersebut. Pertama, kita hirup keduanya. Hmm, si kopi sachet produk pabrik yang tidak perlu disebut mereknya ini punya aroma yang lumayan, tapi ya standarlah, kopinya abang-abang ronda. Lalu kopi racikan sang barista. Hmm. Aromanya… Harum! Seketika semerbak wangi rempah-rempah nusantara meresapi syaraf-syaraf hidung kita. Wanginya begitu harum, dan gurih! Ya!

coffee

pernah mencoba kopi dengan tambahan kayu manis?

Entah kenapa, kopi Mas Pepeng harumnya terasa gurih rempah-rempah, seperti aroma sayur asem khas Betawi asli, seperti gabungan aroma cengkeh, kunyit, jahe, dan lada, yang sering kita cium kalau lagi jalan-jalan di pasar tradisional.

“Padahal ini hanya aroma dari biji kopi saja lho,” ujar Mas Pepeng.

Lalu kita pun mulai menyeruput kedua cangkir kopi. Si kopi sachet kamu minum seseruput. Rasanya? Okelah, pahit dan manis bercampur seperti biasa, kopinya abang-abang ronda. Lalu kopi sang Barista? Ehmm…

Pertama kita minum kopi yang asam, dan terasa mengigit asamnya! Terasa begitu cetar mencambuk di lidah, rasanya hidup jadi indah dan kita ingin menari.

Sementara yang pahit terasa begitu kokoh, kuat, dan perkasa pahitnya, seluruh isi mulut sampai terasa kelu. Kita tiba-tiba merasa jadi high class gentlement gara-gara itu kopi. Tiba-tiba kita merasa jadi seperti mafioso Italia yang jantan dan elegan, seperti dalam film Godfather, pastilah mereka rajin minum kopi pahit berkualitas.

Sudah bisa ditebak, tambahan gula ataupun susu menjadi “tabu” di klinik kopi. Secarik kertas kecil tertempel di meja mas Pepeng, bertuliskan: “Jangan sampai ada gula di antara kita.” Selain merusak rasa asli kopi, dari referensi lain kita juga akan menemukan bahwa gula akan mengurangi kebermanfaatan kopi. (baca juga: Kopi: Minuman Antioksidan). Selain itu, di lantai dua gedung pertemuan Pusat Lingkungan Hidup Universitas Sanatha Dharma ini juga dilarang keras merokok. Menurut Pepeng, biji kopi dapat menyerap bau rokok, sehingga dapat merusak rasa kopi. “Kafe ada rokoknya, itu seperti bunu diri,” ujarnya.

Biji Kopi 2 2008

Indonesia adalah negeri yang kaya kopi!

Menikmati kopi seenak ini, seketika saja bendera Indonesia berkibar di dada kita. Ternyata bangsa kita punya kopi yang luar biasa. Tapi kita jadi sama kesalnya dengan mas Pepeng, kopi semacam ini tidak dapat ditemukan di burjo dan angkringan terdekat. Kita adalah bangsa peminum kopi sachet-an, sementara orang bule di luar sana mengangkat bangga secangkir kopi Indonesia. Boleh jadi ternyata Don Capone yang bengis itu bisa klemer-klemer kalau belum nyeruput secangkir Kopi Toraja pagi-pagi.

Bicara tentang minuman kopi jelas juga harus bicara tentang biji kopinya. Mas Pepeng akan bercerita tentang kisahnya blusukan ke desa-desa di kaki Gunung Merapi dan mengunjungi para petani pemilik kebun kopi.

“Saya bukan hanya beli biji kopi di desa-desa, tapi juga memberi edukasi pada petani di sana,” terang Mas Pepeng.

Ia pun mengajari para petani cara memilih biji kopi yang bisa dipanen, yaitu yang merah terang menyala. Lalu cara memetiknya pun dengan gerakan khusus, agar tidak merusak tanaman kopi.

“Ada petani yang saat memanen, ia langsung mencabut satu batang cabang pohon kopi, padahal cukup dipetik bijinya saja. Coba bayangkan, butuh bertahun-tahun bagi si pohon kopi untuk menumbuhkan cabangnya itu,” terang Mas Pepeng.

Ia pun menyodorkan layar telepon genggamnya ke muka saya, memperlihatkan foto-foto dirinya selfie di kebun kopi tersebut.

Sebagai kafe kopi yang berkomunitas, Klinik Kopi mas Pepeng telah memiliki banyak pelanggang tetap. “Kita di sini sudah seperti keluarga,” ujarnya. Namun begitu, setiap harinya juga selalu ada sekitar lima belas pelanggan baru. Mas Pepeng pun selalu senang mendapat kawan baru untuk teman bercerita perihal kopi.

“Saya dulu itu kerja kantoran. Tapi saya bosan kerja rutinitas seperti itu. Jadi saya mendalami kopi dan memutuskan jadi barista. Ini lebih menyenangkan untuk saya,” kisahnya lagi.

Pertanyaan terakhir kita: dari mana mas Pepeng mendapat wawasan dan edukasi begitu luas tentang  kopi?

Dari Australia jawabnya, ia pernah lama menetap di sana. Juga dari pengalamannya berkeliling Indonesia untuk mencicipi beragam biji kopi.

Apakah mas Pepeng ikut kursus? Tanya saya. Tidak jawabnya, ia hanya belajar saja dari orang-orang sana.

“Di luar negeri, budaya minum kopi memang sudah berakar kuat,” terangnya. Lantas langsung terbayang di benak saya bagaimana orang-orang Australia – yang penikmat kopi setidaknya – punya wawasan yang luas hingga bisa mengajari mas Pepeng banyak hal, hingga mengantarkan mas Pepeng menjadi barista terkemuka di Yogyakarta.

Kunjungan saya ke Klinik Kopi malam itu menjadi pengalaman yang berharga. Begitu luas sekali pengetahuan yang bisa digali hanya dari secangkir kopi. Minuman yang kerap menjadi teman bagi orang-orang di malam yang suntuk, atau di senja yang basah karena hujan, menyimpan beragam cerita menarik.

Kapan-kapan pasti saya akan berkunjung ke Klinik Kopi lagi, untuk minta diberi dongeng kopi yang luar biasa dari mas Pepeng si pendongeng kopi. Asyik juga kalau suatu saat saya bisa bikin kedai kopi sendiri.

(Visited 60 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*