Memahami dan Mendefinisikan Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif menjadi salah satu gagasan perekonomian yang tengah marak belakangan ini. Hal ini dapat dimaklumi, karena seiring dengan perkembangan zaman, proses produksi dan konsumsi dalam perekonomian mengalami pergeseran bentuk dan makna. Jika semisalnya ekonom terdahulu menyebut tiga faktor utama dalam produksi industri adalah: tanah, tenaga kerja, dan modal, maka tidak demikian dengan masa kini. Di masa kini, kreativitaslah yang menjadi sumber daya perekonomian yang potensial.

Seperti yang dijelaskan oleh Richard Florida, kreativitas adalah keterampilan dan kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan bisa diaplikasikan dalam berbagai macam disiplin, dari mulai teknologi, bisnis, seni, hingga hiburan. Tidak seperti sumber daya alam, tenaga kerja, ataupun modal, kreativitas adalah sumber daya yang nyaris tidak bisa habis dan memiliki potensi yang hampir tanpa batas.

Pemerintah Indonesia juga sudah sadar akan potensi ekonomi kreatif. Hal ini tercermin dari diterbitkannya Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 oleh Kementerian Perdagangan. Selain itu, melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif, Presiden Joko Widodo telah membentuk lembaga baru non-kementerian bernama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Badan ini berfungsi untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif di Indonesia.

Dalam salah satu riset yang dilakukan Bekraf dan Badan Pusat Statistik, pada tahun 2015, sektor industri kreatif menyumbangkan 852 triliun rupiah terhadap PDB nasional (7.28%), menyerap 15,9 juta tenaga kerja (13.90%), dan nilai ekspor US$ 19,4 miliar (12,88%). Data juga menunjukkan peningkatan kontribusi ekonomi kreatif yang signifikan terhadap perekonomian nasional dari tahun 2010-2015 yaitu sebesar 10,14% per tahun.

Namun begitu, potensi industri kreatif masih harus digali lebih dalam lagi. Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB Nasional yang masih tujuh persen tentu masih mengecewakan dan belum bisa menopang perekonomian Indonesia. Apalagi ternyata penyumbang terbesar dari volume perdagangan industri kreatif didapat dari subsektor kuliner (41,69%) yang disusul oleh fashion (18,15%). Artinya, masih banyak subsektor lain yang belum berkembang secara maksimal, seperti seni kriya, musik, penerbitan, desain komunikasi visual, dan sebagainya. Belum lagi secara kelembagaan, ternyata hanya 16,68% usaha industri kreatif yang memilki badan hukum, sisanya masih berbentuk usaha informal.

Sebagai konsep yang memang baru, konsep ekonomi kreatif masih sulit diidentifikasi di lapangan. Tidak ada ukuran rigid tentang industri mana yang mengamalkan model ekonomi kreatif dan mana yang masih merupakan industri manufaktur biasa.

Umumnya kita bisa melihat perbedaan yang mencolok dari kultur kerja yang ada pada industri kerja bersangkutan. Pekerjaan yang relatif repetitif, manual, hingga kerja kasar umumnya sudah pasti tercoret dari daftar ekonomi kreatif. Kerja seperti ini contohnya saja buruh pabrik, pekerja manufaktur, pekerja bangunan, dan pekerjaan serupa. Sementara pekerjaan yang mengandalkan proses berpikir kreatif, umumnya sudah bisa dimasukan dalam kategori ekonomi kreatif. Contohnya saja pekerjaan di media, tata busana, tata boga, periklanan, kerajinan tangan, kuliner, wisata, dan lain sebagainya.

Untuk membedakan antara kerja kreatif dan bukan, Florida lebih sering menghubungkannya dengan kelas kreatif (creative class) sebagai entitas masyarakat yang sedang bangkit abad ini. Kebangkitan kelas masyarakat ini terjadi di antara kedua kelas lainnya yang menurutnya sudah lama malang-melintang di dunia industri: Working Class (kelas pekerja) dan Service Class (kelas penyedia jasa) . Yang dimaksud working class adalah kelas masyarakat pekerja berkerah biru (blue collar job) yang bekerja dalam lingkungan kerja repetitif dan manual seperti yang disebut di atas. Sementara Service Class adalah kelas pekerja yang bekerja di lingkungan kantor, bekerja di kantor, duduk di depan komputer, atau berinteraksi dengan klien. Dalam konteks yang berbeda, ada pula yang menyebut ini sebagai pekerjaan kerah putih (white collar job). Pekerjaan ini contohnya saja karyawan, staf ahli, administrasi, pelayanan pelanggan, dan lain sebagainya.

Dari kedua jenis pekerjaan ini, muncul kelas kreatif alias creative class, yang hampir secara keseluruhan menjadi antitesis dari kedua kelas lainnya. Florida mendeskripsikan kelas kreatif sebagai kelas yang bekerja dengan kreativitas dan bukan kerja fisik dan tidak bersifat repetitif. Lingkungan kerja kreatif pun sungguh berbeda secara kultur, tidak adanya seragam kerja, tidak adanya jam kantor yang tetap, bahkan kadang beberapa pekerja kreatif bisa saja bekerja tanpa kantor sama sekali. Pekerja kreatif mengedepankan kemampuan dan bakat individu (individual skill), mengandalkan penggunaan teknologi, serta menjunjung tinggi toleransi. (Konsep ini disebut Florida sebagai 3T, alias talent, technology, tolerance. Dalam tesisnya tentang ekonomi kreatif urban, ketiga faktor ini menurutnya merupakan syarat mutlak berkembangnya ekosistem yang ramah kelas kreatif di kota)

Namun, segmentasi seperti ini pun tidak berlaku absolut dan bisa menjadi sangat relatif dan fleksibel. Florida bahkan mengakui bahwa kerja kreatif bisa terjadi di lingkungan pabrik yang paling kasar sekalipun. Karena bagaimanapun, kerja pabrik tetap membutuhkan tenaga kerja yang kreatif dan terampil untuk melakukan kegiatan produksi. Proses produksi pun tidak selalu repetitif, tetap butuh kreativitas dari pekerjanya.

Jika ditarik lebih jauh, Florida kerap memaparkan bahwa kreativitas adalah hal mendasar dan esensial dalam kehidupan kemanusiaan. Kreativitas masyarakat di tiap zaman adalah faktor kunci berbagai dobrakan-dobrakan peradaban. Boleh dibilang kreativitas adalah salah satu pembeda manusia dari makhluk lainnya.
Pada akhirnya, memang tidak mudah mendefiniskan apa itu ekonomi kreatif. Kita bisa melihat ekonomi kreatif dalam spektrum luas maupun sempit seperti di atas, dan tidak mendapatkan definisi yang memuaskan.

Mencoba mencari pendefinisian berbasis nomenklatur dalam ranah teoretik akademis memang selalu sulit, jika tidak mau disebut mustahil. Karena nyatanya, selalu lebih mudah mengatakan:

“ini ekonomi kreatif, dan ini bukan ekonomi kreatif.”

Ketimbang mengatakan:

“Ekonomi kreatif adalah…”

Meski begitu, penulis telah membaca beberapa referensi literatur yang ditulis oleh dua ahli ekonomi kreatif, yaitu Richard Florida dan John Hartley. Dari kedua karya tulis mereka, dapat disarikan beberapa poin inti yang patut digarisbawahi dalam wacana besar ekonomi kreatif di era kontemporer. Poin-poin ini dapat dijabarkan melalui beberapa kata kunci penting, yaitu: Kreativitas, Ekonomi Kreatif, Inovasi, dan Ekonomi Kreatif dalam Organisasi.

Kreativitas

Sumber gambar: karanbajaj.com

Kreativitas adalah sesuatu yang esensial dalam kehidupan manusia, dan mungkin memang satu-satunya yang membedakan kita dengan makhluk lain. Dengan berpikir kreatif, manusia berarti berpikir untuk mengolah, mengubah, dan menjadikan banyak hal di sekitarnya menjadi lebih baik. Sebagaimana Richard Florida mengutip Paul Romer: “kemajuan terbesar dalam peningkatan taraf hidup manusia bukanlah dari sekedar ‘memasak’ lebih banyak makanan, tapi juga menciptakan ‘resep makanan’ yang lebih baik.” Menurut Florida, etos kreativitas terjadi sebagai sebuah gerakan subversif akan pola-pola lama yang telah usang, demi menggantinya dengan hal yang lebih baik. Dengan perubahan tersebut, manusia dapat memberi nilai tambah (added value) atas apa yang ia produksi.

Kita jarang menganggap ide kreatif sebagai sebuah aset, padahal justru ide kreatif adalah satu-satunya aset yang dimiliki manusia. Ide-ide kreatif bukanlah komoditas yang bisa habis sebagaimana minyak, batu bara, kayu, dan sejenisnya. Sebaliknya, ide kreatif akan selalu bisa digali, dikembangkan, dikolaborasikan, bahkan digabungkan dengan ide lain, yang membuatnya justru lebih berharga seiring dengan waktu.

Tidak heran, di zaman sekarang pun kita mengenal istilah “properti intelektual” yang justru bisa lebih mahal daripada properti fisik. Properti intelektual tercipta dari proses berpikir dan berkolaborasi kreatif, dan dapat terwujud dalam bentuk teknologi, seni, lagu, puisi, film, bahkan pola warna dalam kain tenun. Properti tersebut, yang tentu saja kadang nyaris tidak berwujud fisik, memiliki nilai dan makna yang besar, karena berasal dari proses berpikir kreatif. Sederet undang-undang pun sudah banyak yang mengatur bagaimana properti intelektual ini dijaga agar senantiasa menjadi hak cipta ekslusif individu yang menciptakannya.

Ekonomi Kreatif

Sumber gambar: millo.co

Menurut Hartley, industri kreatif adalah konsep gabungan antara bakat kreatif individu dengan budaya industrialisasi berskala massal. Mengembangkan industri kreatif artinya mengkonvergensikan kreativitas individu yang unik dengan konsep industri guna memproduksi komoditas kreatif tersebut secara massal dan komersial. Industri kreatif ini yang kemudian berkembang menjadi ekonomi kreatif.

Lebih lanjut lagi, Florida menerangkan bahwa yang dimaksud ekonomi kreatif adalah hasil dari pengarusutamaan (mainstreaming) konsep kreativitas dalam ekonomi masyarakat. Aspek kreativitas seolah membangun ulang infrastruktur ekonomi yang baru. Florida berargumen, jika dulu Marx pernah berkata bahwa pekerja harus merebut alat produksi (means of production), maka secara unik, pekerja sebenarnya telah merebutnya. Karena alat produksi tersebut adalah kreativitas mereka masing-masing, bukan lagi pabrik ataupun mesin. Ekspansi dari kerja-kerja kreatif inilah yang berkontribusi pada perkembangan ekonomi.

Inovasi

Menurut Florida, pengetahuan, bakat, dan informasi adalah alat dalam proses kreatif. Sementara inovasi adalah produk keluaran (output) dari proses kreatif tersebut. Inovasi ini bisa berbentuk kongkret seperti barang, karya seni, atau alat elektronik. Tapi bisa juga berbentuk abstrak, seperti sistem, model bisnis, atau sebuah metode dan cara pandang yang baru.

Ekonomi kreatif dalam organisasi

Successful team of new business people in creative office

Florida mengakui, proses kreatif sering dipandang sebagai kerja individu. Hal ini menurutnya tidak benar. Proses kreatif tidak pernah terlepas dari proses sosial. Pekerja kreatif akan sangat bergantung pada koleganya yang berkontribusi dan berkolaborasi dengannya. Mengutip Brown dan Duguid, kreativitas datang dari individu-individu yang bekerja di suatu kelompok yang disebut komunitas praktik (communities of practice). Komunitas ini bekerja sama mengeksplorasi dan mengembangkan ide-ide dari pikiran mereka masing-masing yang unik. Kolaborasi komunitas ini akan menjadi kunci bagi hasil inovasi mereka.

Daftar Pustaka

Florida, Richard. 2012. The Rise of the Creative Class, Revisited. New York: Basic Book

Florida, Richard. 2014. The Creative Class and Economic Development. California: Economic Development Quarterly 2014, Vol. 28(3) 196-205

Hartley, John. 2005. Creative Industry. Cornwall: Blackwell Publishing

Rusiawan, Wawan dkk. 2017. Data Statistik dan Hasil Survei Ekonomi Kreatif. Jakarta: Direktorat Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif.

(Visited 40 times, 2 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*