Jika Kamu Tidak Terbiasa Menulis, Inilah 7 Langkah Mudah Untuk Memulainya

Menulis adalah sebuah kemampuan yang sangat penting untuk dikuasai oleh siapapun dan dalam profesi apapun. Kamu akan selalu dituntut untuk bisa menulis dalam berbagai macam situasi dan kondisi. Dari mulai menulis surat, e-mail, esai, artikel, karya ilmiah, jurnal,  kolom, bahkan tulisan blog. Tidak ada profesi ataupun status dimana kamu tidak akan perlu untuk bisa menulis.

Yap,  mungkin kegiatan menulis akan menjadi hal yang berat jika pekerjaan sehari-harimu bukanlah menulis, selayaknya wartawan, editor, sastrawan, atau sejenisnya. Banyak orang mulai belajar menulis, justru ketika sudah berkarir atau berwirausaha di saat dewasa. Kenapa? Karena di saat muda ia tidak merasa menulis itu penting. Bisa dibayangkan, ada karyawan kantor yang kesulitan menulis surat, ada peneliti yang kesulitan menulis karya ilmiah, dan ada pengusaha yang kesulitan menulis narasi profil perusahaannya.

Maka itu, mari sedikit-demi-sedikit mulai menulis dari sekarang! Tidak ada kata terlambat jika mau dimulai sekarang juga, dan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Inilah beberapa langkah-langkah taktis yang bisa kamu lakukan ketika kamu akan mulai menulis.

1. Kondisikan dirimu di tempat yang eksklusif dan nyaman. Singkirkan segala distraksi hingga hanya ada kamu dan alat-alat penunjangmu untuk menulis.

Oke, segera kita cari tempat yang enak untuk menulis! Bisa di kamarmu, atau kantormu, atau perpustakaan, pokoknya tempat yang kamu rasa tidak akan banyak ada gangguan. Hindari tempat yang terlalu berisik, atau bersuhu terlalu ekstrim, atau terlalu banyak temanmu yang akan mengajak bermain.

Setelah mengunci dirimu di dalam ruangan menulis yang sakral, jangan lupa membawa alat dan bahan penunjang yang kamu butuhkan. Bawa laptopmu jika kamu memakai alat tersebut, atau kertas dan pena, siapa tahu kamu masih cukup kuno untuk menulis tangan. Bawa pula berbagai catatan atau buku referensi lainnya yang memang kamu perlukan untuk menjadi bahan tulisanmu. Tarik nafas, mari kita mulai!

2. Bayangkan apa yang akan kamu tulis

Seorang arsitek bisa membayangkan bangunan macam apa yang akan ia buat. Begitu pula penulis, harus bisa membayangkan apa yang akan ia tulis. Bagaimana kamu akan memulai tulisanmu? Dengan kata dan kalimat seperti apa? Kemudian, apa saja poin-poin urutan isi gagasan yang akan kamu tulis? Persiapkan dengan baik!

3. Bayangkan siapa saja pembacamu

Siapa saja yang akan membaca tulisanmu? (insidescience.org)

Caramu bicara dengan seorang anak umur sepuluh tahun pasti akan berbeda dengan caramu bicara dengan orang dewasa berumur tiga puluh tahun.

Begitu juga dengan menulis. Kamu harus paham betul siapa orang yang akan membaca tulisanmu.

Jika kamu menulis surat kantor, apakah surat itu ditujukan bagi klienmu? Atau karyawanmu? Atau atasanmu?

Jika kamu menulis artikel di media, apakah pembacanya adalah anak muda? Atau mahasiswa? Atau akademisi? Atau praktisi profesional? Atau eksekutif? Siapa?

Dengan memahami benar siapa pembaca yang akan membaca tulisanmu, kamu akan dapat menulis dengan gaya kepenulisan yang tepat.

4. Tumpahkanlah semua yang ada di kepalamu dalam tulisanmu

(simplystatedbusiness.com)

Writers block atau kebuntuan penulis hanyalah mitos. Tidak mungkin penulis bisa tiba-tiba tidak punya ide untuk menulis apa dan bagaimana menuliskannya. Otakmu adalah organ tubuh luar biasa yang selalu secara otomatis mengembangkan berbagai macam gagasan, sekaligus menemukan berbagai gagasan baru. Gagasan-gagasan tersebut pastilah ingin sekali untuk segera keluar dari kepalamu dan bisa diabadikan dalam guratan penamu.

Segera tuang semua yang menjadi gagasanmu dalam kata dan kalimat.

Sudah? Harap ingat, saat kamu menumpahkan semua idemu dalam tulisan, ingatlah untuk menulis dengan jelek. Ya, saya ulangi, menulislah dengan jelek.

5. Kenapa harus menulis dengan jelek? Untuk menghindari pekerjaan ganda.

(webwriterspotlight.com)

Saya tidak main-main menyarankan anda untuk menulis yang jelek. Itulah saran dari seorang sastrawan kenamaan AS Laksana dalam bukunya, Creative Writing sebuah modul pelatihan menulis yang ia ampu di Jakarta Academy. Kenapa begitu? Begini, dalam poin sebelumnya, dijelaskan bahwa kita perlu untuk menumpahkan segala yang ada di kepala kita dalam bentuk tulisan. Nah, namanya juga menumpahkan segala-galanya, tidak mungkin kan tulisan itu akan langsung bagus? Baik dari segi bahasa, pemilihan kata, struktur kalimat, hingga ungkapan frasa tertentu. Lantas, apa kita perlu menyunting atau memperbaiki tulisan tersebut langsung saat itu juga?

Jangan!

Kenapa? Karena itu akan buang-buang waktu! Kalau kamu sedang menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, kemudian menyuntingnya saat itu juga karena merasa jelek, maka akan butuh waktu lamaaaa sekali untuk menyelesaikan tulisan itu sampai akhir. Kamu akan melakukan pekerjaan ganda, menuang gagasan dan memperbaiki tulisan sekaligus, padahal kamu belum selesai menuang semua gagasanmu menjadi bentuk tulisan yang lengkap dan utuh.

Jika kamu sudah selesai menuang semua gagasanmu dan membuat tulisan secara lengkap, barulah kamu mulai melakukan penyuntingan atau perbaikan.

6. Cara mudah menyunting: mengambil jarak dengan tulisan

(stanford.edu)

Nah, sekarang saatnya untuk memperbaiki tulisan yang sudah kamu buat, karena pasti banyak salah kata, salah kalimat, salah paragraf, dan salah ungkapan yang telah kamu buat. Silahkan kamu baca ulang tulisanmu secara keseluruhan. Karena sudut pandang pembacaanmu di saat kamu menulis dan sudut pandangmu saat kamu membaca akan sangat berbeda.

Lebih ekstrim lagi, coba kamu keluar sebentar dari ruangan menulismu dan lakukan sesuatu yang lain. Misalnya, jalan-jalan sebentar, ngobrol dengan teman, atau sekedar melihat-lihat televisi. Setelah itu, coba kamu baca kembali tulisanmu. PASTI ada yang terasa berbeda. Pasti pikiranmu akan lebih jernih dalam melihat kesalahan-kesalahan yang kamu buat di tulisanmu.

Begitulah saran dari Goenawan Moehammad, pendiri majalah Tempo, dalam menyunting tulisan. Penjelasan lengkapnya bisa kamu temukan di bukunya Seandainya Saya Wartawan Tempo. Dengan “mengambil jarak” dari tulisan, kamu akan lebih jernih untuk mengevaluasi tulisanmu.

7. Minta seseorang untuk melakukan proofreading atas tulisanmu

(pennapowers.com)

Sekalipun kamu sudah memperbaiki tulisanmu dengan teliti dan cermat, belum tentu matamu cukup jeli. Cobalah minta beberapa orang temanmu untuk membaca tulisanmu, dan mintai pendapat mereka. Di situ pasti mereka akan memberimu masukan, seperti tulisanmu kurang di bagian sini, agak tidak jelas di bagian situ, dan lain sebagainya.

Jika kamu sudah bisa menulis dengan baik, siapa tahu kamu bisa pula mengirim tulisanmu untuk dimuat di media

(Visited 33 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*