GO-JEK Masuk Yogya, O’Jack Luncurkan Call Jack. Mana yang Akan Dipilih Warga?

GO-JEK, layanan transportasi motor berbasis digital, kembali berekspansi. Setelah membuka layanan di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Bali. Kini mereka berkekspansi ke beberapa kota lagi, salah satunya adalah Yogyakarta.

Kehadiran GO-JEK di Kota Gudeg pun menjadi perbincangan yang cukup hangat oleh masyarakat Yogya. Wajar saja, karena sebelum masuk Yogya pun, GO-JEK sudah ramai dibahas di berita nasional. Tidak lama, warga Yogya pun mulai mendaftar menjadi perintis driver GO-JEK cabang Yogyakarta. Dikutip dari Tribunnews, latar belakang mereka yang mendaftar beragam, mulai ibu-ibu sampai mahasiswa S2.

Peluang GO-JEK di Yogya

Pengemudi motor berseragam jaket dan helm hijau pun mulai sering terlihat di jalanan Kota Yogyakarta. Potensi perkembangan GO-JEK di kota pelajar ini pun saya prediksi akan bertumbuh lumayan pesat, karena tiga alasan:

Pertama, pertumbuhan ekonomi kota ini memang melaju stabil tiap tahunnya. Gairah industri ini dipacu dari sektor pariwisata, kerajinan, hiburan, pendidikan, dan sebagainya yang menjadi ciri khas Yogya sebagai kota wisata dan pelajar.

Kedua, sebagai kota pelajar dengan jumlah kampus paling banyak dibanding daerah lainnya, Yogya akan selalu ramai dengan mahasiswa yang berpotensi menjadi driver ataupun penumpang. Jumlah mahasiswa yang datang ke Yogya tiap tahunnya selalu lebih banyak daripada yang keluar. Belum lagi ditambah turis dalam dan luar negeri yang berwisata ke kota ini.

Ketiga, transportasi publik di Yogya masih kurang memadai. Trans Jogja, yang menjadi angkutan kota ikonis dan dikelola langsung oleh Pemda. hanya begitu-begitu saja armadanya. Banyak yang rusak pula. Bus biasa maupun angkutan kota pun tidak memadai.

Padahal, banyak mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan bermotor dan selalu membutuhkan transportasi jarak dekat dalam kota untuk pergi ke kampus atau pulang ke tempat indekos.

Kesimpulannya, Yogya adalah pasar empuk bagi ekspansi GO-JEK.

Bersaing dengan putra daerah

Menariknya, di Yogya sendiri sebenarnya sudah ada perusahaan jasa transportasi ojek resmi. Namanya O’Jack Taxi Motor, sebuah usaha transportasi motor yang pertama kali menggunakan argometer di Indonesia, dengan jaket dan helm kuning sebagai ciri khasnya.

Dikelola oleh CV. Hoki Project, O’Jack berdiri sejak 9 Desember 2010, dan telah mendapat beragam penghargaan nasional. Salah satunya dari MURI sebagai “Taxi Motor Pertama dengan Sistem Agrometer” pada tahun 2011 dan “Best Public Service” di “Inspiring Business Variety Award 2012.

Sekitar lima tahun O’Jack berdiri menguasai jalanan Yogyakarta, kini mereka mendapat saingan berat berupa GO-JEK yang tengah naik daun itu. Bagaimana O’Jack menyikapinya?

Call Jack, jawaban O’Jack atas GO-JEK

Bekerja sama dengan PT. Gamatechno Indonesia, O’Jack pun meluncurkan aplikasi digitalnya dengan branding baru, yaitu Call Jack. Tidak jauh berbeda dengan GO-JEK, Call Jack menfasilitasi pelanggan maupun driver-nya dengan aplikasi smartphone guna bisa bertemu langsung di jalan.

Uniknya, Call Jack juga menyediakan fitur untuk pembayaran melalui sistem Top-Up. Pelanggan bisa melakukan deposit ke “dompet Call Jack” yang melekat pada aplikasi tersebut. Deposit akan di-auto-debet sehabis menggunakan layanan Call Jack. Pelanggan juga diberi pilihan ingin dilayani driver pria atau wanita. Mengingatkan kita pada Lady Jek, bukan?

Perlu dicatat pula bahwa O’Jack dan Call Jack ini nampaknya benar-benar dipisah, bukan sekedar rebranding. O’Jack tetap ada meski Call Jack telah lahir. Hal ini terlihat dari tarif yang dibedakan serta armada yang juga berbeda.

Untuk O’Jack yang telah senior, layanan ini masih berjalan sebagaimana biasanya selama ini dengan tarif Rp2.000 per km, Rp10.000 untuk dua km pertama, tarif tunggu Rp500 per menit, dan pembayaran minimal Rp10.000.

Sementara Call Jack tarifnya Rp. 2.500 per km, sisanya sama dengan O’Jack. Info lengkapnya bisa dilihat di situs resminya.

O’Jack memiliki armada 35 orang. Sementara Call Jack junior, yang baru melakukan rekrutmen, telah memiliki 100 armada. Menurut Nanang Kuswoyo, founder O’Jack, jumlah ini masih akan ditambah.

Meski akan menambah armada, Nanang juga menyatakan akan mempertimbangkan keseimbangan permintaan dan penawaran untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan ojek konvensional maupun jasa transportasi lain.

“Kami tetap memantau berapa kebutuhan armada dalam satu area tertentu supaya tidak over capacity. Kalau kebanyakan kan bisa menimbulkan problem dengan yang lain. Yang jelas, kami asli dari Yogya dan kami ingin mempertahankan keharmonisan dengan pelaku bisnis lainnya,” kata Nanang, dikutip dari Tribunnews.

Apakah pernyataan Nanang tersebut ingin menyentil si “ojek hijau?” Entahlah. Akan tetapi, diakui atau tidak, kita lebih sering mendengar berita tentang GO-JEK karena kontroversinya, bukan?

Pilih yang mana?

Kini jalanan Kota Yogyakarta akan mulai diwarnai pengendara motor berjaket hijau dan kuning. GO-JEK dan O’Jack, (atau entah jika nanti akan  muncul “jek-jek” yang lainnya) semakin membuka mata kita bagaimana derasnya dinamika bisnis berbasis digital. Sampai-sampai usaha semacam “ojek” yang tadinya hanya digeluti masyarakat menengah ke bawah secara informal, kini menjadi industri kompetitif yang kadang punya bumbu intrik.

Tapi tentu yang namanya bisnis, yang paling kreatif, efektif, dan efisien lah yang akan menang. Jangan buru-buru menghakimi fenomena banyaknya startup yang meniru GO-JEK, sebagaimana dulu seolah-olah GrabTaxi meniru Uber.

Nyatanya, pasti banyak startup lain yang meniru Uber, tapi toh akhirnya GrabTaxi yang bertahan dan menguasai Asia Tenggara, sampai menjadi ancaman serius bagi Uber. Sekadar pengingat: bahkan Facebook saja bukan media sosial pertama di dunia. Ada yang masih memiliki akun Friendster di sini?

Sebagai tambahan ulang, O’Jack memang sudah ada di Yogya sejak tahun 2010 akhir. Kapan GO-JEK berdiri? Ada yang pernah melakukan riset, kapan perusahaan ojek formal pertama kali ada di Indonesia? Meski harus diakui, Gojek memang memelopori penggunaan aplikasi digital dalam layanan trasnportasi motor di Indonesia.

Pada akhirnya, hanya yang benar-benar konsisten menjalankan bisnisnya dan mampu mengikuti perkembangan arus digital yang dinamis, yang akan benar-benar bertahan hidup. Jadilah yang pertama dan tawarkan konsep yang baru dan revolusioner. Atau jadilah yang kedua, tapi menjadi lebih baik dari si yang pertama.

Nah warga Yogya, mau pilih naik ojek yang mana? Atau jadi pengendara ojek yang mana?

(Visited 20 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*