6 Langkah Taktis Untuk Mendirikan Startup Digital yang Fenomenal

Pernahkah kamu mendengar istilah startup belakangan ini? Apa itu startup? Dalam Bahasa Inggris, yang dimaksud startup adalah sebuah usaha rintisan yng baru berdiri. Startup company adalah sebuah perusahaan yang baru berdiri dan berkembang dengan cepat. Lantas, apa bedanya dengan bisnis kecil-kecilan yang baru berdiri?

Menurut Neil Blumenthal, co-founder dan co-CEO dari Warby Parker, “perusahaan startup bekerja dengan memecahkan suatu permasalahan.”

Startup menggunakan ide-ide kreatif untuk menyelesaikan masalah kliennya secara khusus dan masyarakat secara umum. Startup melakukan terobosan-terobosan revolusioner yang membawa pengaruh sangat besar pada komunitas masyarakat.

Mungkin lebih mudah menggambarkannya dengan contoh seperti ini: Facebook pada tahun 2004 adalah sebuah startup. Mark Zuckenberg, seorang mahasiswa dari Harvard, memulai mendirikan cikal bakal facebook sebagai sebuah media sosial beken di kalangan kampusnya. Lama-kelamaan, facebook makin terkenal di kalangan kampus-kampus lain di Amerika, hingga akhirnya dipakai juga oleh masyarakat umum. Startup sederhana itu pun akhirnya didanai oleh investor dan Facebook menjadi perusahaan teknologi raksasa.

Instagram adalah sebuah startup yang didirikan oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger, sebagai sebuah media sosial yang berfokus pada media foto. Whatsapp adalah startup rintisan mantan karyawan Yahoo, Brian Acton dan Jan Koum sebagai aplikasi pengirim pesan praktis yang menggusur fungsi SMS. Yap, kedua rintisan tersebut adalah sebuah inovasi yang memecahkan suatu permasalahan dan kebutuhan masyarakat, hingga akhirnya mendunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Bisakah orang Indonesia membangun startup? Tentu saja bisa. Menurut dailysocial.net, diperkirakan ada 1500 startup di Indonesia. Hal ini juga terpicu dari terus meningkatnya pemakai internet di Indonesia, yang diperkirakan bisa menyentuh 100 juta pengguna di tahun 2016 kelak.

Menurut Rama Mamuaya, CEO dailysocial.net, startup di Indonesia bisa digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu pencipta game, pencipta aplikasi edukasi, serta e-commerce dan informasi. Kita tahu startup karya bangsa yang paling mudah dikenal adalah Kaskus, sebuah forum netizen Indonesia yang sudah duluan eksis ketimbang media sosial “impor”buatan orang bule. Ada pula Gojek, sebagai layanan transportasi motor yang dapat dipesan dengan aplikasi canggih smartphone.

Di bidang e-commerce, kita mengenal Tokopedia dan BukaLapak, yang saling bersaing memenangkan hati pedagang dan pembeli digital di Indonesia. Ada pula portal cekaja.com, yang berfungsi sebagai portal informasi keuangan, asuransi, investasi, KPR, kredit, dan sebagainya. Dalam pengembangan game, ada Agate studio yang memproduksi beragam game buatan anak negeri.

Sudah ada gambaran dengan apa yang dimaksud dengan startup? Yap, yang jelas, tidak pernah ada karakteristik yang definitif dalam menggambarkan apa itu startup, atau kapan sebuah startup itu bisa dibilang bukan startup lagi (karena tentu aneh jika perusahaan sebesar Faceook atau Kaskus masih bisa dibilang startup, padahal mereka telah menjadi raksasa komunitas teknologi). Jadi kalau kamu mau bikin angkringan di depan rumahmu, silahkan saja kamu sebut itu startup. Hehehe.

Yang pasti, melihat tren dekade ini, startup selalu erat kaitannya pada gebrakan ide, model bisnis yang unik, bekerja dengan memecahkan suatu permasalahan, pertumbuhan yang cukup cepat dan cenderung fenomenal, serta satu hal yang cukup khas (meski masih diperdebatkan) adalah berorientasi pada teknologi informasi.

Apakah kamu tertarik membangun startup? Kamu tidak perlu berpikir betapa sulit dan rumitnya membuat startup. Kadang kamu bisa saja hanya berpikir ingin membuat platform pengumpul donasi untuk orang yang membutuhkan, dan begitulah KitaBisa.com lahir. Kadang kamu punya komunitas pemberdayaan masyarakat dan ingin menjual produk pemberdayaan tersebut, begitula Aulia dan Fitriani membangun Dreamdelion.com.

Jika kamu adalah pengusaha muda yang liar dan berbahaya, yang rambutnya masih bau toga dan ingin membuat fenomena digital, inilah langkah sederhana yang bisa kamu tempuh.

Petakan permasalahan yang ada di masyarakat

 

Masyarakat selalu memiliki permasalahan. Petakan permasalahan itu dan pecahkan dengan inovasi startup kamu! (liputan6.com)

Dalam tradisi startup ataupun tradisi bisnis pada umumnya, sangat penting untuk memetakan permasalahan yang siap dipecahkan oleh startup rintisanmu. Masyarakat bagaikan klien atau pembelimu, yang harus bisa kamu bujuk untuk menjadi user atas startup kamu, berbayar ataupun tidak.

Cobalah jalan-jalan dan cari makan, maka kamu pun sadar kamu tidak punya wawasan tentang tempat makan enak di kotamu. Maka bangunlah startup situs media kuliner, yang mengulas tentang berbagai macam tempat makan enak di kota-kota besar. Begitulah qraved.com dan eatjogja.com berdiri.

Saat kamu mau pulang kantor sendirian malam-malam, kamu tidak bisa menemukan ojek dan taksi. Saat itulah kamu sadar betapa pentingnya transportasi bagi masyarakat menengah. Maka bangunlah startup penyedia transportasi. Begitulah GoJek dan Grabbike lahir.

Sebaliknya, kamu pulang kantor dengan mengendarai mobil, lalu ada teman kantormu yang minta nebeng, saat itulah kamu sadar kamu bisa mencari penghasilan tambahan dengan jadi sopir dadakan sepulang kantor. Maka berdirlah UberTaxi, yang mempertemukan orang yang punya mobil serta orang yang butuh tumpangan.

Indonesia itu luas dan penduduknya masif. Hampir 250 juta manusia, dan hampir 100 juta darinya memakai internet secara aktif, lewat smartphone pula. Bayangkan ada begitu banyak permasalahan yang ada di masyarakat dan betapa dengan mudahnya kamu bisa membuat startup yang berguna bagi mereka. Peluang bisnis startup tidak akan ada habisnya karena pelaku startup masih sangat sedikit dan potensi pasarnya masih terlalu banyak!

Temukan rekan-rekan yang satu visi

 

Carilah rekan, karena tidak mungkin kamu mendirikan startup sendirian. (dacadoo.com)

Inilah tahap yang cukup menantang. Kamu harus mencari rekan yang mau bekerja bersamamu. Kamu harus bisa meyakinkan dia dengan idemu dan kamu harus bisa bekerja sama dengannya. Persis seperti Mak Zuckenberg yang melobi teman kuliahnya, Eduardo Saverin, untuk sama-sama merintis thefacebook.com, asal-usul Facebook. Atau seperti duo Kevin Systrom dan Mike Krieger dalam menciptakan Instagram.

Biasanya ketika kamu telah menemukan rekan, mereka biasa disebut co-founder. Merekalah rekan “pendiri” startup kamu yang siap mendampingimu menuju sukses.

Mulai rancang startup kamu, serta model bisnis yang akan dijalankan.

Bersama rekan co-founder kamu, mulailah merancang startup yang akan kamu buat. Rancanglah nama brand startup yang sederhana, mudah diingat, serta catchy. Lihat bagaimana Go-Jek bisa menggabungkan kata “Go” dan “Ojek” menjadi Go-Jek, yang entah disengaja atau tidak, dalam bahasa Jawa “gojek” berarti bercanda. Atau betapa inspiratifnya nama kitabisa.com yang menggambarkan semangat sosial dari startup itu.

Carilah nama brand yang simpel, menggambarkan startup kamu, dan kena di hati masyarakat. Ciptakan juga tagline yang bagus ya!

Bicara tentang model bisnis, ada istilah digitalnya yaitu “monetisasi,” yaitu cara yang bisa dipakai untuk meraup untung. Misalnya untuk model startup ecommerce, biasanya platform ecommerce menyediakan ruang gratis bagi penggunanya untuk jual-beli. Tapi khusus untuk penjual, disediakan fitur untuk menjual barangnya dengan iklan premium. Dengan membayar sejumlah uang pada ecommerce, dagangan si penjual akan lebih mudah laku dijual.

Misalnya lagi situs media kuliner, mereka bisa menyediakan layanan review kuliner bagi restoran tertentu. Startup penyedia penjualan tiket traveling bisa mendapat iklan dari maskapai penerbangan atau hotel tertentu, dan lain terus sebagainya.

Sementara startup layanan jasa seperti Go-Jek ataupun Grabbike sudah lumayan jelas memiliki model bisnis dengan jualan jasa transportasi. Namun, untuk beberapa startup berbentuk media ataupun aplikasi informasi, memang membutuhkan strategi khusus untuk memonetisasi.

Percaya atau tidak, sampai tulisan ini dibuat, Whatsapp belum menemukan cara untuk memonetisasi dirinya sendiri. Maka itu kamu belum pernah lihat ada iklan di Whatsapp kamu kan? Beda dengan LINE yang secara cukup kreatif bisa membuat Sticker spesial yang didanai sponsor dan bisa dipakai penggunanya.

Kumpul di forum startup. Tambah kenalan dan siapa tahu dapat investor.

 

Ada banyak forum startup di kota-kota besar. Coba ikuti salah satunya! (gruenderszene.de)

Cukup banyak co-working space alias tempat-tempat kerja yang berfungsi sebagai forum komunitas temu startup dan investor. Contohnya saja Bandung Digital Valley (bandungdigitalvalley.com), Jogja Digital Valley (jogjadigitalvalley.com), Ikitas (www.ikitas.com) Inkubator Bisnis di Semarang, Stasion (stasion.org) dan lain sebagainya. Di sinilah antar founder startup maupun investor bertemu, mengadakan acara, ekshibisi, dan lain sebagainya.

Tempat-tempat semacam itu juga memiliki program inkubasi, yang intinya memfasilitasi beberapa startup dalam jangka waktu tertentu untuk berkantor di co-working space tertentu. Nantinya startup yang sedang diinkubasi akan digembleng dan dibina sampai matang, dan jika beruntung akan dicarikan investor.

Kalau kamu bingung harus mulai dari mana, coba tengok situs techinasia, yang merupakan situs komunitas startup di Indonesia dan Asia. Simak berita-berita menarik seputar tips membangun startup, berita teknologi, acara temu startup, dan lain sebagainya.

Yang paling penting tentu saja adalah memiliki wawasan tentang penggunaan teknologi

Memang benar tidak ada kewajiban bagi sebuah startup untuk berorientasi pada teknologi dan sistem informasi. Tapi toh nyatanya semua startup berlandaskan atas hal itu. Bahkan perusahaan tua non-teknologi saja juga tidak bisa memungkiri bahwa penggunaan teknologi itu penting dalam bisnis. Lagipula, alasan kenapa startup bisa dengan sangat cepat berkembang dan fenomenal, apalagi kalau bukan penggunaan komprehensif teknologi informasi.

Berarti hanya orang IT yang bisa membangun startup? Atau harus merekrut orang IT?

 

Duh, aku anak Jurusan Administrasi Negara. Gak bisa bikin startup dong? (diginomica.com)

Nah, ini kesalahpahaman yang sering terjadi bagi para pelaku startup. Dikiranya “mainan” semacam membangun startup adalah mainannya anak IT ataupun orang yang gila komputer saja. Jika seorang founder tidak memiliki dasar IT, maka dia tidak akan bisa memulai startup, dan lantas dia harus merekrut orang IT. Tidak begitu kok, percaya deh.

Semua orang bisa menjadi ahli IT jika belajar di Fasnetgama, dan justru butuh ketajaman naluri yang lebih dari sekedar IT untuk membangun startup

 

Siapapun bisa menjadi ahli IT, asalkan belajar. Karena percayalah, mendirikan startup akan membutuhkan naluri yang lebih dari sekedar penguasaan teknologi (managementconcepts.com)

Yap, kamu bisa belajar bikin website, membuat berbagai macam desain, membangun pemrograman, dan terus lain sebagainya tanpa harus dilatarbelakangi gelar akademis. Caranya? Ya belajar dong! Fasnetgama Training Center memberikan berbagai macam pilihan pelatihan yang cocok untuk kamu calon pengusaha startup masa depan! Dari mulai pelatihan reguler, satu semester, dan satu tahun. Materinya pun variatif, dari mulai teknik informatika, pemrograman, jaringan, aplikasi android, bahkan desain grafis. Jadi, tunggu apa lagi?

Teknologi menjadi elemen yang cukup penting dalam sebuah startup. Kamu harus punya kemampuan teknis yang tajam untuk bisa menguasai bisnis digital di Indonesia dan dunia. Tapi ingat! Teknologi akhirnya hanya menjadi salah satu faktor saja. Justru ketajaman lainnya yang diperlukan pelaku startup adalah memetakan permasalahan masyarakat dan potensi kebutuhan pasar. Lebih penting lagi adalah kreativitas seorang founder dalam mengkreasikan startup yang ia dirikan agar meledak dan menjadi fenomena dunia digital. Nah, apakah kamu siap menjadi pengusaha startup sekarang?

(Visited 35 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*